Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Creepy Me in my Poems

For the first time in my architecture-life, I'm bringing my poems into architecture. What's more interesting is, I use my poems in their original form, by this I mean, in Malay language. Now everybody in my class knows how Malay language sounds like. ahaha... The project is pretty much investigating the space between poems. The atmosphere of hearing two poems recited simultaneously. Sounds that make space, space that's defined by sound. Seriously, I don't really know how it'll work out... but hey, just having some experimentation with stuff a bit off-architecture... a break from my headache major project. Plus, I kinda enjoy making people listen to my poems without expecting them to understand a word... rather then, reciting to a bunch of people who understand but couldn't 'appreciate' them... and yeah, I receive some flattering comments from 'mat-salleh' course mate like... "when something is well written, even you can't understand it.....

Perempuan Gila

Memang! ada suatu-suatu masa lewat senja mahupun tika subuh masih muda aku ini rasanya seperti gila perempuan gila yang banyak bicara; banyak tanya; banyak cerita perempuan gila yang menulis di mana-mana perempuan gila yang bikin sajak sajak biasa tiada siapa-siapa sudi baca tiada siapa-siapa faham maknanya ada suatu-suatu masa tika matahari merah menyala mahupun malam gelap membuta aku ini rasanya seperti gila perempuan gila yang berbicara dengan jargon-jargon aneh lagi luar biasa perempuan gila yang menjahilkan manusia dengan saba kata yang tiada makna perempuan gila yang ke mana-mana bersama pena dan buku lakarnya tiada siapa-siapa tahu tiada siapa-siapa mahu memang! memang aku rasa gila sajak-sajak cinta sajak-sajak derita sajak-sajak air mata sajak-sajak kecewa aku perempuan gila yang sengaja bercerita melalui sajak-sajak buta kerana aku tidak mengharap belas dari kamu manusia biar. biar tiada siapa bisa tafsir sebarang makna pada bait kata-kata aku kunci semua rahsia. "mata-...

Laman Puisi Kiambang

Daku dengan ini mengumumkan pembukaan blog baru cik kiambang.. Sejak kecil, berpuisi tidak pernah berhenti menjadi hobi, sekalipun bakatnya biasa-biasa, tidak pula mahir dari segi bahasa... namun pada penghasilan setiap karya, ada suatu kepuasan yang ku rasa.. Aku kira, aku sering bicara sendiri, mengungkap sesuatu yang tak pasti, kadang menjeruk luka dan resah di hati.. dan semua itu menjadi penyakit diri andai tidak ku terjemahkan ke dalam bentuk puisi.. Mungkin ada yang merasakan aku sungguh mensia-siakan masa.. menulis tidak seberapa.. namun aku kira... jika kamu tidak suka, itu tidak mengapa.. berpuisi..juga caraku bercerita... Pada seawal kewujudan Anak Deka ini.. memang berhasrat untuk dijadikan ruang ku abadikan puisi dan karya.. tetapi berubahnya menjadi ruang untuk segala benda... maka tiba masanya aku rasa.. aku ingin mengasingkan puisi-puisiku di laman yang lebih sempurna... Aku bukan penggiat bahasa.. tidak pandai mengatur cara... cuma sekadar bersuka dengan kata.. jemputl...

Aku dan Dia

Aku bukan dia Mengapa kau banding beza Aku bukan dia Mengapa kau banyak tanya Aku bukan dia Lain cara lain gaya Lain jantina juga Memang tak sama Kalau iras pada lirikan mata Tak sama minda dan kata Aku bukan dia Dia yang kau kenal Aku yang kau tak kenal Tapi aku kenal dia Lebih dari kau kenal dia Maka jangan sebarang kata Terhadap aku atau dia Atau pun pada sesiapa jua Aku tahu dia manusia istimewa Tidak aku mahu menumpang nama Namun sudah kau bertanya Aku hanya berkata 'ya' Aku tahu perihal cintanya Aku lihat lepuh lukanya Maka kau jangan menabur tuba Tuba itu kelak menjadi bisa Memamah kau jua Benar... Aku ingin seperti dirinya Bisa bersuara demi cinta Punya kudrat luar biasa Namun memang tak serupa Apa kan daya Siapa diriku Aku syukur dan terima Tak pernah aku ukur dan hina Begitu juga dia Terima aku seadanya Aku bukan dia Biarpun kami bersaudara Tapi memang tak sama Maka... Jangan banyak tanya...

mengarut

sorong papan tarik papan buah keranji atas papan suruh makan saya makan suruh mengaji, nanti la dulu saya nak makan dua tiga kucing berlari mana nak sama kucing yang tak berlari dua tiga boleh dicari semunya sama kalau dah pencuri tuai padi antara masak esok jentera datang tolakkan intai kami antara nampak oi, apa intai-intai, tak takut tuhan? pisang emas di bawa belayar buruk ranum di dalam peti hutang emas boleh dibayar hutang along membawa mati tinggi-tinggi si matahari anak kerbau mati tertambat kejam gila kau orang ini biar kerbau mati tertambat lompat si katak lompat lompat la tinggi-tinggi dah setiap hari aku lompat tak juga tinggi-tinggi (hahaa...love this) kalau ada jarum yang patah hati-hati nanti tercucuk jari kalau sudah terbuat jenayah panggilah polis datang gari buah cempedak diluar pagar ambil galah.. oi' jgn jolok la cempedak orang saya budak baru belajar kalau salah, minta maaf la sekarang

Oolong

Sedap Tapi... Rendaman pertama sedikit pahit rasanya Tak mengapa Kucurah sahaja ke tanah Rendam untuk kali kedua Baharulah... Enak rasanya.. Tapi ada yang tak suka Katanya teh hijau lebih sempurna Benarkah? Ada pula katanya asalkan teh semuanya sama sahaja Benarkah? Mungkinlah... Tapi... Oolong ini istimewa Cubalah.. Cuba rasa... Boleh rendam berkali-kali jua.. Satu Dua Tiga Rasanya sudah tiada Kutukar yang baru sahaja... P/S: Selamat berkhidmat, Datuk Seri Najib! Ingatlah, di sana menanti nikmat dan laknat...

Janji itu tiada

kebasahan dirimbuni hujan langkah panjang bagai tak kesampaian Jauh nan jauh dari pandang bersiur rasa bersimpang derita semalam nan jauh terasa dekat esok nan dekat terasa jauh aduhai hati yang luka merana engkau di redup senja apa kejadahnya lamunan duka kau mensia-siakan manusia mentari semakin dalam tenggelam ditelan malam selimutilah kisah semalam jangan hati diamuk suram bayang nan hitam kabutilah sebuah silam mentari sudah hilang yang tinggal hanya malam kecundangan dek kecurangan biar terkafan dalam kenangan kemegahan juga temui kehancuran apa disanjung cerita mereka kan mereka rasai semua Oh diri.. jangan dinanti esok nan tak pasti jangan dirobek semua janji janji hanya membunuh diri dan manusia pastinya mati...

Bin_Gung

Bila aku rindu Diri pula terasa malu Bila aku sendu Masa yang ada ku biar berlalu Bicara ku kelu Sekadar jiwa berlagu sayu Remuk rapuh cinta semalam Kian lama kian suram Apa mungkin menjadi kelam Dihimpit malam diamuk dendam Jangan kau hilang Aduhai sayang....

Aduhai Cinta

Bila cinta bersuara Kesukma ditanya Kemana harus dibawa Hati yang berbunga Kuncup kembangnya menjadi rahsia Aduhai cinta... Bukan manusia menentukan letaknya Bukan pandangan menentukan gerangan Bukan keramat menentukan saat Bukan sukma menentukan tema Aduhai cinta... Bila ke tuhan disandarkan cerita Bila ke tuhan direbahkan rahsia Hujungnya tiada kecewa Bertemu jua kumbang dan bunga Menjalin cinta di lembayung Yang Esa Aduhai cinta... Kasih bukan sekadar nama Cinta bukan sekadar suara Hanya yang mengerti bisa dimengertikan . Atas permintaan pengantin baru, Pn Akmar yang baru menikah dengan Encik Abang Ikhwan... saya menulis puisi ini.. sudah dinyatakan kepada beliau saya kurang pandai berpuisi kahwin.. Namun moga beliau tidak kisah menerima rangkai ucap kata dari saya... Moga beroleh bahagia hendaknya... Sekian, terima kasih...

PANDANG

Masih punya masa kamu? Bersenda tawa bersorak suka... Masih punya masa kamu? Melompat girang menari riang... Masih punya rasa kamu? Malakar cinta bercanda asmara Masih punya rasa kamu? Menyanyi puja idola sukma Mata kamu, buta? Telinga kamu, tuli? Lidah kamu, tiada? Hati kamu, mati? Akal kamu di mana? Aduh sayang... Tenunglah... Darah terperah, kepala pecah, badan bersepah, isi terlapah Aduh sayang... Pandanglah..

Jangan

Bukan tak suka Tapi tak boleh Bukan tak mampu Tapi aku malu Bukan benci Tapi aku tak sudi Bukan marah Tapi aku tak salah Beginilah Sudah..sudah..sudah Jangan bicara belakang Aku bisa dengar Jangan maki hadapan Aku bisa lawan Hidup jangan bercakaran Ingat tuhan Kawan tetap kawan Tak mungkin jadi lawan Cuma akrabnya ada batasan Ukurlah guna Iman Sekian...

Abang

Kasih tak pernah padam, Cinta tak pernah kelam. Jauh engkau pergi Hatimu tetap serupa Kapan kau kembali Ku yakin tetap sama Kendati apapun galang gantinya Kasih tak dagang Cinta tak kecundang Biar remuk repuh tulang belulang Cintamu takkan hilang Biar mengah lelah urat saraf Kasih terus dijulang Biar hancur lebur hati Cinta dan Kasih terus gemilang. Tiba disambut derita Kelibat tak menancap sebarang mata Dentum dentam kau bercerita Tentang cinta Maka berolehlah sebuah nama Pergi diiring tawa Pergi diiring airmata Diizin tuhan kau kan kembali Kembali bercerita tentang cinta. Pedulikan tentang mereka. Kasih tak pernah padam, Cinta tak pernah kelam.

SENI+BINA

Tak semudah yang kau sangka Bila bermula Terkerahlah segala jentera Meregang segenap otot anggota Memereah setiap saraf minda Tak semudah yang kau sangka Itu tak kena, ini tak kena Aku suka, kau tak suka Kau suka, aku tak suka Tak semudah yang kau sangka Malam-malam tak lena Mata ternganga Tangan bekerja Sekalipun tubuh tak bermaya Tak semudah yang kau sangka Bila di penghujungnya Bukan berakhir selamanya Namun untuk seketika Aku bisa lena Kau suka atau tak suka Aku tutup cerita.

PANGLIMA HELANG

Tersebut al-kisah seorang panglima Masyur bukan kerana pencak Namun luhur budi dan akhlak Panglima berguru tak pernah jemu Segala buah mahirlah sudah Tingkah berpencak pantang dipatah Langkah diatur bagai berhujjah Keris dihunus membelah daratan Namun ke tanah kakinya terkapan Mula panglima menyimpan anganan Ingin terbang mencapai awangan Setelah berakhir suatu pertapaan Maka panglima mencapai kemahiran Tengkolok dipakai segak Bengkung dililit kemas Keris dilayur dupa Maka terbanglah panglima Terbang ke angkasaraya Kini panglima bersama helang Di langit biru melayang-layang Sayup-sayup dipandang Terkadang hilang dilindung awan Terkadang terang disuluh mentari Terbang panglima terbang Namun jangan lupa menoleh ke belakang Ada citra harus kau kenang Agar sayapmu tidak pincang Terbang panglima terbang Jangan sanpai gugur keris di pinggang Kelak kau hanya seekor helang Tiada senjata hendak dijulang Terbang panglima terbang Pastikan tengkolok dan bengkung sela...

HIDUP BERSAMA

Kita sudah sampai di lereng amat indah, di bawah pelangi, dalam ufuk yang masih mencabar; dan kita ikhlas berjanji untuk bermaruah, tenang dalam segala uji cabar dan debar. Kita mencari hanya yang tulen dan jati, sekata hidup, mengerti dan berbudi. Kita wajar mendaki lagi kerana puncak yang jauh. Dalam gelora dan taufan tak tercalar tekad kita kerana kemerdekaan mengasuh kita bersuara dalam sopan, yakin menyanggah musuh, tulus menambah kawan, inti tunggak dan menara kebahagian. ~ A Samad Said

1234

Bagaimanakah Melayu abad dua puluh satu, masihkah tunduk tersipu-sipu? jangan takut melanggar pantang jika pantang menghalang kemajuan jangan segan menentang larangan jika yakin kepada kebenaran; jangan malu mengucapkan keyakinan jika percaya kepada keadilan. USMAN AWANG

PUISI UNTUK AYAH

AYAH Malam-malam yang kelam Degil mata tidak mahu pejam Dipasak anak mata pada atap berwarna suram Direnung dinding kayu berselumbar tajam Ditatap almari kelabu bercorak hitam Dibolak balik badan di atas tilam Ayah masih berjaga di larut malam Semalam, ayah melakar sebuah kisah Sekajang memoir bertinta darah Seraut perjuangan menjadi sejarah Namun, sejarah itu menjadi khazanah Tersimpan di cerok rumah Terkambus dan tetimbus dek tanah Tanpa cangkul di tangan Ayah mengali semula kenangan Berputar ligat di enjin fikiran Menyelak helai-helai perjuangan Merungkai simpul-simpul pengorbanan Mengusap luka-luka yang terkesan Bukti cinta yang tak dimengertikan Pada lewat usia meniti senja Ayah menyaksi negara merdeka Dari sebangsa kini tiga warna Dari berbasikal kini berkereta Dari tanah merah kini jalan raya Dari rumah papan kini berbatu bata Ayah kerut dahi tertanya-tanya Apa ini benar-benar kita? Pada lewat usia meniti s...

PUISI HARI LAHIR

KURNIA Celik mata disapa suria Sekalung usia merangkak dewasa Kelak esok dan esok yang menjelma Maka dewasa menjadi tua Ini fitrah kita Namun bukan janji pasti setiap jiwa Kerana esok yang menjelma Bukan milik kita Hari ini yang diberi nyawa Bukan milik kita Semalam yang mencoret cerita Bukan milik kita Setiap jiwa ada tarikhnya Persis segala perkara ada luputnya Seawal jiwa dberi nyawa Semurni janji didepan pencipta Seluhur bersih saat nafas pertama Seredup cinta si bonda Ruh dan jasad bersatu mula jejak pertama Jejak ke sebuah dunia Ahh.. dalamnya ada pelbagai perkara Indahnya sementara Namun kita manusia Sering lupa dan tergoda Bergolak dengan dosa pahala Diiring sedar dan lupa Benar…kita hanya manusia Tapi kita didunia, bertamu sahaja Itu jangan kita lupa Sekalipun kita pelupa Jiwa akan kembali ke penciptanya Ditimbang amal seusia nyawa Tiket ke syurga mahal harganya Maka usia janga dipersia Syukur pada ...

PUISI LAGI

PENAT Sesat di rimba penuh ranjau Janggal pada redup semuanya hijau Rindu pada lampu kota berkilau-kilau Bosan, benci, sakit hati bagai nak keriau Kejut budaya rimba Asing, lebih dari sumbang si kera Memang rasa diri sebatang kara Bicara: Ah! Ini hanya mula Tamatnya entah bagaimana Sedang yang dirasa hanya seksa Pohon besar, akarnya menjalar-jalar bak ular Biar batang boleh dibuat bersandar Tapi tersadung lalu bercalar-balar Aduh! Pedihnya bagai dikelar-kelar Bedebah! Mau saja ditebang dan dibakar Bicara: Sabar! Sabar! Bila matahari tenggelam Malam pastinya hitam Datanglah nyamuk menerkam Mujur bukan harimau membaham Kaki lenguh, urat terseliuh Sesaat mengeluh Sesaat mengaduh Badan hanyir bau peluh Sudah, jangan nak mencemuh Tunggu saja menjelang subuh Ada cahaya dapat menyuluh ASR’22092007- 11 Ram 1428, Melbourne *herm..puisi kali ini temanya lain sikit dari tema2 biasa posts kat blog ni..huhu.. ni sekadar mo...

TETAMU SENJA

Kita datang ini hanya sebagai tetamu senja Bila cukup detik kembalilah Kita kepadanya Kita datang ini kosong tangan dada Bila pulang nanti bawa dosa bawa pahala Pada tetamu yang datang dan Kenal jalan pulang Bawalah bakti mesra kepada Tuhan kepada Insan Pada tetamu yang datang Dan lupa jalan pulang Usahlah derhaka pula Pada Tuhan kepada insan Bila kita lihat manusia lupa tempat Atau segera sesat puja darjat Puja pangkat Segera kita insaf kita ini punya kiblat Segera kita ingat kita ini punya tekad Bila kita lihat manusia terbiar larat Hingga mesti merempat ke laut biru Ke kuning darat Harus kita lekas sedar penuh pada tugas Harus kita tegas sembah Seluruh rasa belas Kita datang ini satu roh satu jasad Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat Kita datang ini satu roh satu jasad Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat ~ A. Samad Said